Rabu, 12 November 2014

Makalah Sejarah Panjat Tebing

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.  Latar Belakang

            Panjat tebing merupakan olahraga ekstrim dan penuh tantangan,namun dibalik itu olahraga ini banyak penggemarnya dan sampai sekarang olahraga ini terus mengalami perkembangan yang sangat pesat, maka dari itu saya selaku orang yang berada dalam bidang olahraga ingin menambah wawasan dalam olahraga ini.

 

B.  Tujuan

            Dengan mempelajari tentang olahraga ini maka :

1.    Akan mengetahui lebih luas tentang panjat tebing.

2.    Dapat memberikan materi olahraga ini pada siapapun yang membutuhkan

 

 

BAB II

SEJARAH PANJAT TEBING

 

A.  Sejarah

Pertama kali panjat tebing dikenal di kawasan Eropa, tepatnya di pegunungan Alpen. Tahun 1910, penggunaan alat dalam panjat tebing mulai diperkenalkan meskipun masih terbatas pada carabiner dan piton yang terbuat dari baja. Dan sejak itulah pendaki dari Austria dan Jerman mulai mengembangkan teknik dan alat-alat baru dalam panjat tebing. Di Inggris sebelum perang dunia meletus, kegiatan panjat sangat dibatasi dalam penggunaan piton dengan alasan merusak lingkungan. Hal itulah yang menyebabkannya ketinggalan dari Jerman. Teknik pemanjatan tebing dengan menggunakan tali mulai dikenal tahun 1920.
Tahun 1970, para pemanjat Amerika mulai mengembangkan teknik baru di kawasan Yosemite. Memasuki tahun 1980 panjat tebing mulai terpisah dari induknya (mendaki gunung). Sementara di Indonesia sendiri panjat tebing mulai dikenal tahun 1960 yang dirintis oleh Mapala UI dan Wanadri diantaranya: Harry Suliztianto, Agus Resmonohadi, Heri Hermanu, dan Deddy Hikmat yang memulai latihan di tebing Citatah Jawa Barat. Kantor kementerian Negara Pemuda dan Olah Raga bekerja sama dengan Pusat Kebudayaan Perancis (CCP)tahun 1989 mengundang para pemanjat Perancis Patrick Bernhault, Jean Baptise Tribout dan Corriene Lebrune serta Jean Harau seorang instruktur teknis panjat tebing. Dan berdirinya FPTGI diikrarkan di tugu monas 21 April 1988 yang dilakukan sekitar 40-an orang dari berbagai OPA dari Jakarta, bandung, Padang, Medan, Semarang, Yogyakarta Surabaya dan Ujung Pandang.Kemudian FPTGI berubah nama menjadi FPTI (Federasi Panjat Tebing Indonesia). Dan tahun 1992 diakui sebagai anggota Union Internationale des Association d Alpinisme (UIAA) yang mewadahi organisasai panjat tebing dan gunung Internasional. Tahun 1994 FPTI diakui sebagai induk olah raga panjat tebing oleh Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) dan mulai ikut even pon sejak 1996.Dalam melakukan pemanjatan tebing besar (big wall) dimana pemanjatan dilakukan berhari-hari, karena jalurnya panjang.
B.  Sistem  
Ada dua sitem yang biasa digunakan yaitu sistem alpine(alpine push) dan Himalayan (Himalayan style)
1.Alpine push
Dalam sistem ini pemanjat melakukan pemanjatan sampai puncak tanpa turun kecamp, jadi pemanjat selalu ada ditebing saat tidur sekalipun (hanging bivoac) segala aktivitas diluar pemanjatan dilakukan ditebing untuk ini segala peralatan dan perbekalan harus benar benar diperhitungkan . penggunaan sistem ini juga harus memperhitungkan personil yang bertugas mengangkat barang- barang tersebut dengan sistem load carry.jadi dibutuhkan mimimal 3 personil (1 orang leader, 1orang belayer, 1orang load carry) setelah pemanjat terakir(person load carry) sampai dipitch atasnya , tali(fixe rope) yang
digunakan naik dengan sistem jumaring langsung digulung untuk dibawa keatas . jadi tidak ada tali menggantung  untuk turun sebelum sampai puncak.
Keuntungan
«    Pemanjat tidak usah turun kedasar (base camp) untuk istirahat (malam) dan naik lagi ke pitch terakhir untuk melakukan pemanjatan.
«    Jumlah tali yang dibutuhkan relative sedikit (min 3roll)
«    Waktu pemanjatan lebih singkat.
Kelemahan
«    Segala sesuatu mulai dari membuka jalur dan yang mengevakuasi  barang-barang keperluan diatas harus dilakukan sendiri oleh leader atau bellayer tersebut  (termasuk pemasangan lintasan untuk load carry)
«    Waktu istirahat malam hari kurang karena tidur menggantung
2. Himalayan style
            pemanjatan dilakukan sampai sore, kemudian pemanjat turun ke camp dasar dan pemanjatan diteruskan besok pagi. Tali sampai pitch terakhir ditinggal untuk melanjutkan pemanjatan besok, jadi sebelum leader dan bellayer melakukan pemanjatan mereka akan melakukan jumaring sampai pitch terakhir kemudian baru leader melakukan pemanjatan.
Kelebihan
«    Cukup dibutuhkan dua orang personil untuk membuka jalur ( leader dan                       bellayer )
«    Pemanjat dapat beristirahat dengan nyaman di base camp
«    Satu orang yang sudah mencapai sudah dianggap berhasil
Kekurangan
«    Butuh banyak peralatan terutama tali, panjang tali disesuaikan dengan              panjang lintasan yang akan dilakukan dalam pemanjatan.
«    Waktu pemanjatan lebih lama.
 
BAB III
P E N U T U P
Kesimpulan
            Olahraga panjat tebing pertama dikenal di kawasan Eropa tepatnta di pegunungan Alpen  dan pada tahun 1910, penggunaan alat dalam panjat tebing mulai diperkenalkan meskipun masih terbatas namun untuk  teknik pemanjatan tebing dengan menggunakan tali mulai dikenal tahun 1920. di Indonesia sendiri panjat tebing mulai dikenal tahun 1960 yang dirintis oleh Mapala UI dan Wanadri diantaranya: Harry Suliztianto, Agus Resmonohadi, Heri Hermanu, dan Deddy Hikmat yang memulai latihan di tebing Citatah Jawa Barat setelah itu berdirilah FPTGI diikrarkan di tugu monas 21 April 1988 lalu FPTGI berubah nama menjadi FPTI (Federasi Panjat Tebing Indonesia). Dan tahun 1992 diakui sebagai anggota Union Internationale des Association d Alpinisme (UIAA) yang mewadahi organisasai panjat tebing dan gunung Internasional.
 
DAFTAR PUSTAKA
§    Materi Dasar Kepencintaalaman. Yogyakarta : Mahasiswa Pecinta Alam Fakultas Geografi.
§    Mechanical Advantage (hauling). Profesional Association Climbing Instructur Seehan B.E, Alan.
§    Warid, Allan. “ vertical”. Komponen Dasar Panjat Tebing.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar